• Our Partners:

4.000 PENDARFAR, CUMA 5 YANG LOLOS! Google dan Accel Buka Suara: 70% Startup AI di India Cuma ‘Bungkus’ Doang, Gak Punya Inovasi Asli!

Nesabamedia – Geliat kecerdasan buatan (AI) di India memang luar biasa, namun kualitasnya masih perlu dipertanyakan. Hal ini terungkap dalam program akselerator AI bersama yang digelar oleh Google dan perusahaan modal ventura Accel. Dari lebih dari 4.000 aplikasi yang masuk, hanya lima startup yang terpilih untuk program bergengsi ini (16/03).

Apa yang salah dengan ribuan aplikasi lainnya? Menurut Partner Accel, Prayank Swaroop, sekitar 70 persen dari lamaran yang ditolak adalah “wrappers” atau pembungkus belaka. Artinya, startup-startup ini hanya melapisi perangkat lunak yang sudah ada dengan fitur-fitur AI sederhana seperti chatbot, tanpa menciptakan alur kerja baru yang revolusioner menggunakan AI.

“Mereka tidak membayangkan ulang alur kerja menggunakan AI,” tegas Swaroop.

Sisanya, banyak yang jatuh ke dalam kategori yang sudah sangat padat, seperti otomatisasi pemasaran dan alat rekrutmen berbasis AI. Para investor menilai startup di sektor ini sulit untuk menonjolkan diferensiasi alias tidak memiliki keunikan.

Menariknya, sekitar 62 persen lamaran berfokus pada alat produktivitas dan 13 persen pada pengembangan perangkat lunak, menunjukkan ekosistem AI India masih sangat didominasi aplikasi enterprise, bukan produk konsumen.

Dari 4.000 lebih lamaran, hanya lima startup yang dinilai memiliki inovasi mendalam dan berhasil lolos ke program Atoms. Mereka akan mendapatkan pendanaan hingga USD 2 juta dari Accel dan Google AI Futures Fund, serta kredit komputasi cloud dan AI dari Google senilai hingga USD 350.000. Kelima startup pilihan tersebut adalah:

  1. K-Dense: Membangun “rekan ilmuwan” AI untuk mempercepat riset di bidang ilmu hayati dan kimia.
  2. Dodge.ai: Mengembangkan agen otonom untuk sistem ERP perusahaan.
  3. Persistence Labs: Fokus pada voice AI untuk operasi pusat panggilan (call center).
  4. Zingroll: Membangun platform untuk pembuatan film dan acara berbasis AI.
  5. Level Plane: Menerapkan AI untuk otomatisasi industri di manufaktur otomotif dan kedirgantaraan.

Jonathan Silber, salah satu pendiri dan direktur Google AI Futures Fund, menjelaskan bahwa startup terpilih ini sangat selaras dengan area di mana Google memprediksi adopsi AI akan semakin dalam di dunia nyata.

Program ini juga menjadi sumber umpan balik berharga bagi tim Google DeepMind untuk meningkatkan model mereka. Filosofinya sederhana, jika sebuah perusahaan menggunakan model alternatif, itu berarti Google harus bekerja untuk membangun model terbaik di pasar.

Penulis Redaksi

Hudalil Mustakim

Hudalil Mustakim, lebih akrab dipanggil Alil. Saya seorang Content Writer yang cukup lama bergelut dalam bidang ini, saya menyukai hal baru khususnya dalam menulis berbagai macam gaya penulisan artikel yang bervariasi.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments