Nesabamedia—Dalam gelaran Forum Dialog Wadah Pemikir China (Guangxi)-ASEAN 2025 di Nanning, satu topik mencuat sebagai prioritas bersama, kerja sama strategis di bidang kecerdasan buatan (AI). Forum yang mengusung tema (23/12).
Konektivitas Cerdas ASEAN, Nasib Bersama ini secara gamblang mencerminkan pergeseran paradigma. Jika dahulu konektivitas regional identik dengan infrastruktur fisik seperti jalan dan pelabuhan, kini konektivitas digital dan kecerdasan buatan menjadi tulang punggung baru untuk pertumbuhan dan integrasi ekonomi.
Forum ini menyoroti realitas yang dihadapi banyak negara ASEAN, termasuk Indonesia. Seperti diungkapkan Tang Liangjun dari Kamar Dagang Usaha Kecil dan Menengah India-China, negara-negara ASEAN seringkali berada pada tahap awal penelitian dan pengembangan AI, namun memiliki kebutuhan yang mendesak untuk mengadopsi dan berinovasi dengan teknologi ini.
Di sinilah China, dengan kekuatan teknologi dan kapasitas investasinya, melihat peluang untuk kemitraan. Kerja sama yang diusung bukan lagi sekadar ekspor produk jadi, tetapi transfer pengetahuan, joint R&D, dan pengoptimalan rantai industri bersama.
Peluncuran Inisiatif Nanning tentang Kerja Sama AI menjadi bukti konkret dari komitmen ini. Inisiatif di bawah payung Aliansi Wadah Pemikir “Digital Silk Road” ini bertujuan menciptakan kerangka untuk berbagi kebijakan, sumber daya penelitian, dan praktik terbaik.
Gao Zhikai dari Center for China and Globalization menekankan pentingnya mendorong interkonektivitas dan interoperabilitas, serta bersama-sama memanfaatkan teknologi baru untuk pengembangan yang saling menguntungkan. Ini menandai evolusi dari hubungan dagang biasa menuju kemitraan teknologi yang lebih dalam dan simbiosis.
Tetapi, kerja sama ini juga mengandung dimensi strategis yang kompleks. Seperti diingatkan oleh Ong Tee Keat dari Malaysia, dalam kerja sama dengan China, ASEAN tidak hanya harus fokus pada ekspansi pasar, tetapi juga secara aktif mendorong litbang mandiri dan penguatan kapasitas lokal.
Tujuannya adalah untuk menghindari ketergantungan teknologi dan memastikan bahwa manfaat ekonomi dari AI dapat dinikmati secara luas di dalam negeri masing-masing. Keseimbangan antara menerima investasi teknologi dan menjaga kedaulatan digital menjadi tantangan halus yang harus dihadapi oleh para pembuat kebijakan ASEAN.
Forum ini pada akhirnya adalah cermin dari masa depan geopolitik dan geoekonomi kawasan. AI telah menjadi arena baru untuk diplomasi dan pembangunan pengaruh. Kerja sama China-ASEAN di bidang AI, jika dikelola dengan prinsip saling menghormati dan saling menguntungkan, berpotensi menjadi mesin inovasi regional yang kuat. Ia dapat mempercepat solusi untuk tantangan lokal seperti pertanian presisi, manajemen kota pintar, dan layanan kesehatan.
Perlu diingat, kesuksesan jangka panjangnya akan diukur bukan hanya oleh jumlah proyek atau investasi, tetapi oleh sejauh mana ia memberdayakan talenta lokal, menghormati keragaman regulasi, dan benar-benar membangun komunitas dengan masa depan bersama yang lebih seimbang dan berdaulat.
Download berbagai jenis aplikasi terbaru, mulai dari aplikasi windows, android, driver dan sistem operasi secara gratis hanya di Nesabamedia.com:











