Nesabamedia—Jarang terjadi, tetapi akhirnya Menkomdigi mengikuti presiden Prabowo dalam kunjungan negara mereka ke Tokyo, Jepang. Tentu ada beberapa titik poin penting dalam peningkatan kerja sama.
Meutya selaku Menkomdigi menegaskan bahwa kunjungan ini adalah salah satu yang bernilai, karena sebagai silaturahmi antar kedua negara, Indonesia dan Jepang tercaat telah menjalin kerja sama selama bertahun-tahun.
Kerja sama antar negara telah terjalin dengan baik, mulai dari penerimaan warga asli Indonesia untuk bekerja di Jepang, hingga pertukaran pelajar yang masih terus diwariskan.
Dalam dunia industri juga sama, Jepang banyak memberikan bantuan dalam hal kerja sama teknologi dan industri terbaru.

Tercatat telah lebih dari 60 tahun Indonesia dan Jepang bekerja sama tanpa adanya isu-isu yang berarti, kini kerja sama yang baru mungkin akan kembali diterbitkan.
Menkomdigi melalui Meutya menjelaskan bahwa kerja sama yang akan datang mungkin terlihat berbeda, di mana mereka memfokuskan untuk pengembangan di bidang digital dan teknologi—jepang tentu saja telah mahir di bidang ini.
Jepang tercatat sebagai negara yang maju, meskipun dalam kurung waktu dua dekade ekonomi negara tersebut stagnan, mereka masih masuk ke daftar 5 besar ekonomi tertinggi.
“Kunjungan Presiden ini akan fokus membahas hal-hal strategis antara kedua negara, termasuk kerja sama di bidang teknologi dan digital,” jawab Meutya ketika diwawancarai.
Naruhito, Kaisar Jepang adalah daftar penting Prabowo dalam kunjungannya, di mana mereka juga bertemu dengan perdana Menteri Sane Takaichi yang namanya mulai melambung di mata global.
Seperti yang diduga, ada banyak investor dari Jepang yang diduga akan bergabung dalam proyek-proyek besar nantinya, investor tentu saja penting untuk mendukung dana dari proyek kedua negara.
“Kita berharap kunjungan Presiden dapat meningkatkan investasi Jepang di Indonesia,” lanjut Meutya.
Selain kerja sama yang menguntungkan, Presiden Prabowo berharap agar nantinya kedua negara bisa bermitra dan menciptakan kolaborasi yang menguntungkan.
Editor: Hudalil Mustakim





