Nesabamedia—Tahun ini negara kita Indonesia telah banyak memberikan konstribusi untuk menerapkan banyak hukum baru yang menyesuaikan zaman, kerja sama antara negara hingga PP Tunas dari Komdigi.
Kita lihat dari sisi penerapan digitalisasi, di tengah maraknya banyak platform baru, Komdigi juga mendapatkan banyak tugas penting untuk memastikan banyak perusahaan mengikuti hukum yang berlaku.
Pengguna AI atau kecerdasan buatan makin tinggi, terbukti dari laporan OpenAI yang menyebutkan ada lebih dari 900 Juta pengguna aktif setiap minggunya, sedangkan Gemini dari Google melaporkan 750 Juta pengguna aktif per minggunya.
Komdigi melihat beberapa negara yang mulai mempersempit aturan untuk sosial media atau penggunaan internet, tetapi hanya berlaku untuk anak-anak di rentang umur 16 tahun ke bawah.
Negara-negara di Eropa mulai menerapkan hukum tertulis, di mana membatasi pengguna sosial media untuk anak-anak, sedangkan Australia sejak akhir tahun 2025 kemarin resmi memblokir akun pengguna di bawah 16 tahun.
Indonesia juga menindak cepat, negara kita adalah negara pertama di ASEAN yang menerapkan PP Tunas, di mana menekankan platform atau perusahaan agar bisa memproteksi konten negatif.
Terdengar sepele? Tentu saja tidak, ini memang bukan yang pertama kali, Meutya selaku Menteri Komdigi telah menambahkan beberapa aturan baru di PP Tunas di mana perusahaan harus menambahkan beberapa aturan privasi dan data penggunanya.
Ismail Fahmi menjelaskan bahwa negara kita bisa menjadi yang pertama di ASEAN, karena saat ini Malaysia juga mengusung aturan yang hampir sama.
Menurut Ismai, jika berjalan sesuai rencana maka skala kita bahkan lebih besar dari Australia, di mana Komdigi berencana melindungi anak dari sosial media hingga 18 kali lipat lebih banyak.
“Skala Indonesia jauh lebih besar. Australia melindungi sekitar 4 juta anak di bawah 16. Indonesia 70 juta. Hampir 18 kali lipat,” tutur Fahmi dengan percaya diri.
Selama bertahun-tahun, efek sosial media atau internet telah lama dibincangkan oleh orang tua karena efek kecanduan bagi anak-anak!
Editor: Hudalil Mustakim





