Rumah Adat Padang Beserta Ciri Khas dan Keunikannya, Yuk Disimak!

Padang merupakan ibukota Sumatera Barat. Mendengar kata Padang, sebagian dari kita mungkin teringat akan masakan Padang yang pedas dan kaya akan cita rasa. Selain dalam bidang kuliner, Padang juga menyimpan berbagai keunikan lainnya, mulai dari bahasa daerahnya, tarian, hingga rumah adat yang dimiliki.

Berbicara mengenai rumah adat Padang, kalian pasti langsung teringat rumah bermaterialkan kayu dan beratap lancip seperti tanduk kerbau. Ya benar sekali, rumah inilah yang biasa disebut dengan rumah gadang. Masyarakat sekitar lebih sering menyebutnya dengan nama rumah Bagonjong atau rumah Baanjuang.

Nah, pada artikel ini kita akan membahas mengenai ciri-ciri rumah gadang secara umum dan jenis-jenis rumah gadang yang ada di Padang. Jadi, simak terus ya.

Rumah Adat Padang dan Ciri Khasnya

1. Struktur Bangunan Rumah Gadang

Rumah Adat Padang dan Ciri Khasnya

Rumah gadang umumnya dibangun berbentuk persegi panjang dengan ukuran yang besar. Hal ini karena rumah gadang digunakan sebagai tempat tinggal bersama. Hampir keseluruhan bahan pembangunnya terbuat dari material kayu dan bambu, mulai dari dinding, tiang penyangga, dan lantainya.

Untuk rumah gadang sederhana, biasanya atapnya terbuat dari material ijuk. Namun seiring dengan ekonomi masyarakat yang semakin berkembang, material atap seng digunakan untuk mengganti material ijuk.

Atap rumah gadang berbentuk lengkungan, dimana pada bagian ujungnya akan meruncing ke atas seperti halnya tanduk kerbau. Setiap rumah gadang memiliki jumlah tanduk atau gonjong yang disesuaikan dengan ukuran rumah, namun rata-rata terdiri dari 4 sampai 6 tanduk yang mengarah ke sisi kanan kiri, dan 1 tanduk yang mengarah ke depan. Oleh masyarakat sekitar, tanduk yang menjulang ke atas ini dilambangkan sebagai harapan kepada Tuhan.

Untuk bagian tiang penyangga, rumah gadang menggunakan tiang duduk, yang mana ini berarti tiang tersebut tidak ditancapkan ke dalam tanah, melainkan bertumpu pada batu-batu datar di atas tanah. Adanya batu-batu ini bertujuan untuk meredam getaran apabila terjadi gempa.

Selain itu, alih-alih menggunakan paku, masyarakat lokal menggunakan pasak yang terbuat dari kayu untuk menyatukan tiang dan kaso rumah.

Oleh karena itulah, meskipun dibangun menggunakan material kayu dan bambu, rumah gadang terbilang tahan gempa. Bukan karena kuat kokohnya, melainkan karena fleksibilitasnya mengikuti getaran gempa.

Baca juga : Rumah Adat Gadang

2. Interior Rumah Gadang

interior rumah gadang

Pilar dalam rumah gadang biasanya disusun dalam lima baris yang berjajar di depan rumah. Baris ini membagi ruangan menjadi 4 ruang panjang atau yang biasa disebut lanjar. Di lanjar bagian belakang biasanya digunakan sebagai kamar.

Menurut ketentuan adat istiadat masyarakat lokal, rumah gadang yang ideal seharusnya memiliki sembilan ruang, atau minimal lima ruang di dalamnya. Namun, jumlah kamar dalam rumah gadang juga tergantung dari jumlah penghuni perempuan.

Rumah gadang terdiri dari kamar, lanjar, anjuang, dan kolong. Lanjar adalah tempat yang digunakan pemilik rumah untuk menerima dan menjamu tamu. Anjuang kanan digunakan sebagai kamar para gadis, sedangkan anjuang kiri digunakan sebagai tempat kehormatan bagi para penghulu ketika terdapat upacara adat.  Dan yang terakhir, yaitu kolong yaitu sebagai tempat penyimpanan alat pertanian atau tempat wanita bertenun.

3. Fungsi Rumah Gadang

Rumah Adat Padang dan Keunikannya

Tidak hanya ukurannya yang besar, rumah gadang juga memiliki fungsi dan peranan yang sangat luas. Rumah gadang umumnya dibangun di lahan milik keluarga pihak perempuan yang telah diwariskan secara turun temurun. Rumah gadang akan diwariskan dari dan kepada pihak perempuan di dalam keluarga atau kelompok. Istilah sederhananya, rumah gadang diwariskan dari Ibu ke anak perempuannya.

Seperti halnya rumah pada umumnya, rumah gadang juga memiliki fungsi utama sebagai tempat tinggal dan tempat beraktivitas bagi penghuninya. Penghuni yang dimaksud terdiri dari nenek, ibu, dan anak-anak perempuan. Laki-laki tidak diperbolehkan tinggal di rumah gadang, biasanya mereka tinggal di surau.

Laki-laki diperbolehkan tinggal apabila sakit atau sudah tua renta. Selain menjadi tempat tinggal, rumah gadang juga digunakan sebagai tempat acara adat, seperti penobatan kepala adat, pertemuan keluarga, dan lain sebagainya.

Baca juga : Rumah Adat Sulawesi Tenggara

4. Filosofis Rumah Gadang

Setiap bagian dari rumah gadang memiliki filosofinya sendiri. Oleh masyarakat setempat, rumah gadang  sangat dimuliakan bahkan dianggap suci. Hanya orang-orang yang bermartabat yang tinggal di rumah ini. Salah satu bentuk penghormatan terhadap rumah gadang adalah dengan mencuci kaki setiap memasuki rumah adat ini.

Dalam bertamu ke rumah gadang juga harus mengikuti ketentuan atau etik yang berlaku. Bagi tamu perempuan, cara bertamu adalah dengan berseru. Bagi laki-laki, cara bertamu dengan berdehem. Dan laki-laki yang bertamu pun hanyalah kerabat sendiri. Rasanya sangat mengganjal apabila laki-laki yang bukan kerabatnya bertamu. Pertemuan antar laki-laki biasanya dilakukan di masjid, gelanggang, atau balai.

Berikut ini adalah makna simbolis dari setiap bangunan rumah gadang :

  • Tiang : kekuatan dan kekokohan
  • Pintu : komunikasi yang beradab
  • Tangga : dinamika-dialektika hierarki kepemimpinan
  • Dinsing : penjaga privasi anggota keluarga
  • Bilik : tempat penyimpanan barang yang berharga
  • Gonjong tunggal (tanduk tunggal yang mengarah ke depan) : hubungan dengan Sang Khalik
  • Gonjong sisi kiri dan kanan : keseimbangan

5. Jenis-jenis Rumah Gadang

a. Rumah Gadang Jenis Gajah Maharam

gajah maharam

Rumah Gadang Gajah Maharam merupakan jenis rumah gadang yang terbilang mewah. Rumah ini selalu dibangun menghadap utara. Rumah gadang ini juga sering digunakan sebagai tempat acara adat.

Di sisi-sisi dan belakang rumah ditutupi oleh sasak. Rumah Gadang Gajah Maharam umumnya ditemui dengan 5 buah gonjong atau tanduk, 4 di sisi-sisinya dan satu di depan. Material pembangunnya terdiri dari kayu juar, kayu surian, dan kayu rayung. Untuk bagian atapnya terbuat dari seng.

b. Rumah Gadang Gonjong Limo

gonjong limo

Sesuai dengan namanya, rumah gadang gonjong limo adalah rumah gadang yang memiliki lima gonjong. Rumah gadang jenis ini termasuk rumah gadang yang masih banyak ditemui sebagai tempat tinggal warga.

Eksistensi dari rumah adat padang ini bisa kita lihat di salah satu perkampungan di Minangkabau Kotatinggi, lebih tepatnya di Jorong Lokuang, Nagari Kotatinggi, Kecamatan Gunuangomeh, Limapuluh Kota. Pesona budaya dari perkampungan rumah gadang gonjong limo ini layak untuk dijadikan tempat wisata budaya.

Baca juga : Rumah Adat Sulawesi Barat

c. Rumah Gadang Surambi Papek

Rumah Adat Padang

Sesuai dengan namanya, yang membuat jenis rumah gadang ini berbeda adala papeknya, yaitu memiliki pintu masuk dari belakang. Desain seperti ini dibuat agar para tamu masuk ke dalam rumah lewat pintu belakang. Namun, di masa sekarang desain rumah gadang ini banyak dimodifikasi dengan memindahkan pintu masuk ke depan. Hal ini karena tidak semua orang suka masuk lewat pintu belakang.

d. Rumah Gadang Batingkek

Dalam bahasa Indonesia, rumah gadang batingkek memiliki arti rumah gadang bertingkat. Rumah gadang ini memiliki gojong yang bertingkat-tingkat. Namun seiring berjalannya waktu, eksistensi  rumah gadang jenis ini semakin menurun, sehingga saat ini cukup jarang ditemui.

Mungkin sekian artikel kali ini mengenai rumah adat padang dan ciri khasnya. Semoga penjelasan di atas dapat menambah wawasan bagi pembaca. Terima kasih.

Leave a Reply

Send this to a friend