Rumah Adat Sumatera Barat : Ciri-ciri dan Keunikan Beserta Gambarnya

Sumatera Barat adalah salah satu provinsi di Indonesia yang terletak antara 0°54’ LU dan 3°30’ LS dan antara 98°36’ BT dan 101°53’ BT.

Provinsi Sumatera Barat berbatasan dengan Provinsi Sumatera Utara dan Riau di sebelah Utara; Samudera Hindia di sebelah Barat; Provinsi Jambi dan Provinsi Sumatera Selatan di sebelah Selatan, dan Provinsi Jambi dan Bengkulu di sebelah Timur.

Provinsi Sumatera Barat merupakan rumah bagi etnis Minangkabau. Namun, perlu dipahami pula bahwa wilayah Sumatera Barat mencakup Kepulauan Mentawai.

Karena itu, beragam seni budaya yang meliputi musik, tarian tradisional, senjata tradisional, makanan, olahraga, dan rumah adat di Sumatera Barat tidak hanya sangat kental dengan ke-Minangkabau-annya melainkan juga ke-Mentawai-annya.

Rumah Adat Sumatera Barat

Provinsi Sumatera Barat sejatinya memiliki dua macam rumah adat yaitu rumah adat Minangkabau dan rumah adat Mentawai. Hal ini disebabkan wilayah Sumatera Barat yang juga mencakup Kepulauan Mentawai yang terletak di Samudera Hindia. Sehingga, Sumatera Barat tidak hanya menjadi rumah bagi etnis Minangkabau melainkan juga etnis Mentawai dan etnis lainnya.

Rumah adat Minangkabau dikenal dengan sebutan rumah gadang atau rumah bagonjang atau rumah baanjung. Sementara itu, rumah adat Mentawai disebut dengan uma atau rumah panjang. Bentuk kedua rumah adat tersebut dirancang sesuai dengan kondisi iklim setempat dan kondisi topografi.

Masing-masing rumah adat memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri terkait dengan bentuk arsitektur dan fungsinya.

A. Ciri Khas dan Keunikan

Baik rumah adat Minangkabau atau rumah gadang maupun rumah adat Mentawai atau uma memiliki karakteristik tersendiri terkait dengan bentuk arsitektur dan fungsi rumah. Berikut adalah ulasan singkatnya.

1. Rumah gadang

Rumah Adat Sumatera Barat (Rumah Gadang)

Bentuk arsitektur rumah gadang adalah sebagai berikut.

Dibangun di atas tanah milik keluarga

Rumah gadang umumnya dibangun di atas tanah miliki keluarga induk dalam suku atau kaun tersebut secara turun temurun.

Berbentuk persegi panjang dan seperti panggung

Rumah gadang pada umumnya berbentuk persegi panjang dan dibagi menjadi dua yaitu bagian depan dan bagian belakang. Panjang rumah gadang antara 12,5 meter hingga 59,5 meter. Adapun lebar rumah gadang adalah 10 hingga 14 meter.

Rumah gadang juga memiliki tinggi lantai sekitar 2,5 hingga 3,5 meter dan tinggi plafon sekitar 5 hingg 7 meter dari atas tanah. Seperti halnya Rumah Adat Lamin, rumah gadang juga berbentuk seperti panggung. Rumah adat Minangkabau ini dibangun dengan menggunakan pasak yang terbuat dari kayu. Meskipun begitu, pasak ini memiliki daya ikat yang kuat.

Terbuat dari kayu dan bambu

Rumah gadang atau rumah adat Minangkabau umumnya terbuat dari kayu. Kayu yang dibuat rumah disesuaikan dengan keadaan kayu tersebut. Misalnya, kayu yang melengkung untuk bubungan rumah adat dan kayu yang kecil untuk untuk pasak. Untuk mengikat kayu-kayu tersebut menjadi sebuah rumah, digunakan pasak yang juga terbuat dari kayu dan bukan paku. Meskipun begitu, pasak ini memiliki daya ikat yang kuat. Sementara itu, bambu yang panjang digunakan untuk pembuluh air dan bambu yang pendek untuk perian.

Atap

Atap rumah gadang terbuat dari ijuk. Bentuk atap rumah gadang menyerupai tanduk kerbau yang disebut dengan gonjong. Atap rumah gadang juga terdiri dari garis-garis lengkung yang bermakna betapa ramahnya masyarakat Minangkabau. Namun, seiring dengan perjalanan waktu, atap rumah gadang perlahan digantikan dengan seng.

Kolom

Rumah gadang yang baik harus mempunyai kolom yang dibuat dari pohon-pohon yang dikumpulkan hanya oleh anggota dari satu keluarga besar saja, juga harus dipotong dan dibawa kalau mungkin tanpa pertolongan anggota keluarga yang lain. Kepala keluarga memancangkan atau memasang kolom pertama dan dia harus jadi orang yang pertama membawa tangga ke dalam rumah.

Lantai

Lantai rumah gadang terbuat dari papan kayu atau bambu. Dari lantai ke ujung kiri dan kanan dari lantai biasanya ditinggikan satu hingga dua tingkat. Lantai yang ditinggikan dua tingkat disebut anjung dan memiliki beberapa fungsi antara lain sebagai tempat bagi kaum perempuan untuk mengerjakan tenunannya, digunakan untuk menerima tamu saat upacara adat atau pesta, tempat orang duduk dan tidur, dan untuk orang sakit. Anjung biasanya berukuran lebih pendek dari lebar rumah dan berjumlah tidak lebih dari enam buah.

Dinding

Dinding dan balok-balok pembuat dinding dipasang dengan tidak menggunakan paku melainkan menggunakan teknik pasak dan jepit. Dinding rumah gadang biasanya dipenuhi dengan ukiran-ukiran. Pemeliharaan dinding rumah dilakukan dengan menggunakan “sasak bugih” yakni anyaman bambu yang melapisi sisi luar dinding dan belakang bangunan yang tidak diukir.

Jendela

Jendela pada rumah gadang biasanya terdapat pada ujung dan sisi bagian depan. Pada bagian rumah lainnya seperti dinding belakang bangunan dan kamar tidak berjendela.

Pintu

Pintu masuk pada rumah gadang terletak pada as yang membagi dua bangunan secara simetris. Bukaan pintu mirip dengan bukaan jendela yaitu ke dalam.

Surau

Di sekitar kompleks rumah gadang biasanya dibangun sebuah surau yang dimaksudkan sebagai tempat ibadah dan tempat tinggal bagi laki-laki dewasa yang belum menikah.

Motif dasar

Beberapa pendapat menyatakan bahwa motif dasar rumah gadang adalah perahu. Gonjong yang berjumlah empat buah adalah tajuk pada haluan dan buritan perahu. Tajuk yang di tengah adalah kajang perahu. Pendapat lain menyatakan bahwa motif dasar atap rumah adat adalah dari sejarah Minang sendiri. Dengan adanya kata “kabau” maka gonjong rumah adat diambil dari bentuk dasar tanduk kerbau. Garis lengkung tanduk kerbau adalah potongan garis bagian atap rumah Minang.

Corak bangunan

Berdasarkan sistem adat atau keselarasan yang dianut, di Sumatra Barat khususnya Minangkabau terdapat dua macam corak bangunan rumah gadang yaitu Keselarasan Koto Piliang dan Keselarasan Bodi Chaniago. Keselarasan Koto Piliang memiliki ciri-ciri aristokratis, beranjung, dan bergonjong. Sedangkan, Keselarasan Bodi Chaniago bericikan demokratis, tidak beranjung, dan bergonjong.

Berdasarkan wilayah yakni wilayah pedalaman dan pesisir, terdapat dua macam corak bangunan. Di wilayah pedalaman bentuk dan konstruksi bangunan lebih rumit dibandingkan dengan wilayah pesisir. Hal ini dipengaruhi oleh karakter masyarakat di masing-masing wilayah.

2. Rumah adat Mentawai atau Uma

Rumah Adat Sumatera Barat Mentawai

Bentuk arsitektur uma adalah sebagai berikut.

Berbentuk panggung

Rumah adat Mentawai atau uma berbentuk rumah panggung yang terbuat dari kayu dengan tinggi lantai dari tanah mencapai satu meter. Adapun panjang rumah uma adalah 30 meter, lebar 10 meter, dan tinggi sekitar 7 meter. Di bawah rumah atau kolong rumah difungsikan sebagai kandang hewan ternak khususnya babi.

Dibangun tanpa paku

Seperti rumah gadang, rumah uma ini dibangun dengan tidak menggunakan paku melainkan pasak dari kayu serta sistem sambungan silang bertakik.

Atap

Atap uma terbuat dari rumbia yakni bahan penutup atap yang berasal dari daun pohon rumbia. Pohon ini biasanya tumbuh di rawa atau di pantai.

Dihuni bersama

Rumah uma biasanya dihuni secara bersama oleh lima hingga sepuluh keluarga dari keturunan yang sama.

Terdiri dari beberapa bagian

Rumah uma terdiri dari beberapa bagian yaitu ruangan utama dan rusuk. Ruangan utama atau Lalep adalah ruangan yang berfungsi sebagai tempat tinggal suami istri yang pernikahannya disahkan oleh adat. Ruangan utama ini biasanya terdapat di bagian dalam rumah uma. Sedangkan rusuk adalah sebuah ruangan yang khusus diperuntukkan bagi anak-anak muda, para janda untuk bernaung, dan mereka yang diasingkan karena melanggar aturan adat Suku Mentawai.

Ornamen

Ornamen atau dekorasi uma banyak dipengaruhi oleh budaya India berupa sulur-sulur berbentuk tumbuh-tumbuhan dengan dedaunan dan bunga-bungaan.

Hiasan

Hiasan yang banyak ditemui di uma adalah tengkorak monyet dan rusa hasil buruan yang digantung bersamaan dengan hiasan kayu. Hiasan utama yang wajib ada di dalam uma adalah patung burung yang terbuat dari kayu dan digantung di tengah rumah. Patung burung merupakan mainan bagi roh-roh yang datang berkunjung ke uma.

B. Fungsi rumah

Fungsi rumah gadang yang utama adalah sebagai tempat kediaman keluarga. Fungsi rumah gadang lainya adalah sebagai perlambang kehadiran satu kaum dalam satu nagari serta sebagai pusat kehidupan dan kerukunan seperti tempat bermufakat keluarga kaum dan melaksanakan upacara serta tempat merawat anggota keluarga yang sakit.

Sementara itu, sebagai rumah adat suku Mentawai, uma berfungsi sebagai tempat tinggal, menyelenggarakan pertemuan, melaksanakan upacara adat, dan sebagai tempat menyembuhkan anggota keluarga yang sakit.

Sekian pembahasan singkat mengenai rumah adat Sumatera Barat. Semoga bermanfaat. Terima kasih.

Leave a Reply

Send this to a friend