Nesabamedia—Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengeluarkan peringatan serius kepada dunia pers: percepatan kecerdasan buatan (AI) tidak hanya mengubah cara kerja, tetapi secara fundamental mengancam fondasi ekonomi dan keberlanjutan industri jurnalisme itu sendiri.
Dalam pidatonya di Retreat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) 2026, Patria menyebut gelombang disrupsi pasca-migrasi digital ini sebagai ancaman yang mungkin lebih besar daripada transisi dari media cetak ke online.
“Kita menghadapi fenomena zero click,” tegas Patria, menggambarkan paradoks modern di mana informasi melimpah namun sumbernya sekarat.
Fenomena ini terjadi ketika publik cukup membaca ringkasan atau intisari berita yang disajikan oleh asisten AI (seperti Google AI Overviews atau ChatGPT) tanpa pernah mengunjungi situs berita aslinya. Akibatnya, trafik yang menjadi sumber kehidupan bagi media digital baik untuk iklan maupun langganan tergerus habis.
Patria mengutip riset Reuters Institute dan University of Oxford yang menunjukkan penurunan trafik media digital lebih dari 40 persen, sejalan dengan melonjaknya konsumsi informasi melalui agregator berbasis AI.
Tantangan tidak berhenti di sana. Nezar Patria juga menyoroti ketimpangan kekuatan yang semakin lebar antara perusahaan media yang memproduksi konten dan raksasa teknologi yang mendistribusikannya.
“Distribusi berita kini tidak lagi sepenuhnya berada di tangan redaksi, melainkan dikendalikan oleh platform yang bekerja dengan AI,” ujarnya.
Hal ini memunculkan persoalan strategis tentang perlindungan hak ekonomi media atas konten mereka yang digunakan untuk melatih dan memperkaya algoritma platform.
Sebagai respons, Kemkominfo telah mengambil langkah konkret dengan menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 2024 tentang Tanggung Jawab Perusahaan Platform Digital untuk Mendukung Jurnalisme Berkualitas (Publisher Rights).
Aturan ini dirancang untuk menciptakan landasan hukum yang adil bagi negosiasi antara penerbit berita dan platform. Selain itu, pemerintah sedang menyusun Peta Jalan Kecerdasan Artifisial Nasional yang diharapkan dapat mengatur pemanfaatan AI secara bertanggung jawab, termasuk di sektor media.
“Upaya ini diharapkan dapat mendorong kerja sama saling menguntungkan antara media dan platform digital untuk menjamin masa depan jurnalisme berkualitas,” pungkas Patria.
Pesannya jelas tanpa model kemitraan baru yang adil dan perlindungan hak cipta yang kuat, disrupsi AI berpotensi bukan hanya mengubah, tetapi melumpuhkan pilar keempat demokrasi.
Download berbagai jenis aplikasi terbaru, mulai dari aplikasi windows, android, driver dan sistem operasi secara gratis hanya di Nesabamedia.com:











