Google Play Store Dianggap Jadi Sarang Malware

Google Play Store Jadi Sumber Utama Penyebaran Malware dan Aplikasi Android Berbahaya

NESABAMEDIA.COMGoogle Play Store yang merupakan store resmi bagi para pengguna Android untuk mengunduh beragam aplikasi yang dibutuhkan, rupanya teridentifikasi sebagai tempat utama penyaluran malware yang mengancam perangkat smartphone. Hal ini berdasarkan sebuah laporan terbaru. 

Setelah dilakukan riset secara mendalam terhadap lebih dari 12 juta perangkat Android yang terinfeksi malware selama periode bulan Juni hingga September, diketahui sumber utama malware tersebut berasal dari aplikasi yang ada di Google Play Store. 

Lebih lanjut, tim peneliti itu melakukan analisa terhadap lebih dari 34 juta pemasangan APK dari 7,9 juta aplikasi berbeda menggunakan data telemetri yang disediakan oleh NortonLifeLock (dulunya bernama Symantec). 

Dibandingkan sumber lain sebagai tempat pengunduhan dan pemasangan aplikasi Android, Google Play Store menduduki peringkat paling atas dalam kategori unduhan aplikasi berbahaya. Diketahui Google Play menyumbang sebesar 67 persen dari total pemasangan aplikasi Android berbahaya. 

Hanya sekitar 10 persen pengunduhan aplikasi Android berbahaya yang berasal dari Store pihak ketiga selain Play Store. Metode lain yang digunakan dalam penelitian itu adalah pengunduhan dari situs web, layanan Pay Per Install (PPI), pemulihan data cadangan, dan alat IM. Selain itu, sekitar 10 hingga 24 persen dari total aplikasi yang menjalani pemeriksaan dan analisa bisa diklasifikasikan sebagai aplikasi berbahaya atau aplikasi yang tidak diinginkan.

“Sebuah analisa pada kategori hubungan Who-Install-Who antara pengunduh dan aplikasi turunan, mengungkapkan bahwa Google Play Store menjadi sumber utama, bertanggung jawab untuk 87 persen dari total pemasangan aplikasi dan 67 persen dari pemasangan aplikasi yang tidak diinginkan. Namun di sisi lain menjadi pemilik pertahanan terbaik dari serangan aplikasi Android berbahaya,” begitu yang tertulis dalam laporan tersebut.

Jika melihat pada sejumlah kasus-kasus yang pernah terjadi sebelumnya, mayoritas aplikasi yang bermasalah itu ditemukan di Play Store, bahkan saat Google berusaha untuk memberikan penindakan tegas. Dan baru dua minggu yang lalu, tim dari Avast mengungkap sebanyak 21 aplikasi game yang mengandung Adware ditemukan di Play Store. 

Keterbukaan ekosistem yang dimiliki Android dan kepopulerannya, menjadikan Play Store sebagai sasaran utama para peretas. Sejauh ini, Google memiliki reputasi yang cukup buruk saat menjadi penjaga keamanan layanan mereka, dan hal ini bisa dibuktikan dengan laporan dari ZDNet yang mereka abaikan pada tiga minggu yang lalu. 

Bambang

Pernah menjadi jurnalis dan juga Social Media Manager di Merdeka.com selama lebih dari 2 tahun, sebelum akhirnya mengerjakan sejumlah proyek website yang dioptimasi dan dimonetisasi Google Adsense. 

Kini sedang aktif dalam pembuatan konten Youtube dokumenter bertema sosial serta menjadi penulis konten untuk sejumlah website. 

Leave a Reply

Send this to a friend