Pada Akhirnya, Gugatan Epic Terhadap Google Sangat Masuk Akal

Pada Akhirnya, Gugatan Epic Terhadap Google Sangat Masuk Akal

NESABAMEDIA.COMSebelumnya publik tidak pernah mempertanyakan apa yang diinginkan Epic Games ketika membawa Apple ke pengadilan. Namun tuntutan “Nineteen Eighty-Fortnite” dinilai telah mengungkap agenda di balik tuntutan tersebut, yakni sebuah kemunafikan. Akan tetapi pembenaran untuk kasus paralel terhadap Google tidak begitu jelas, dan baru sekarang terungkap alasan Epic yang juga menyerang pembuat Android itu.

Hakim di persidangan akhirnya membuka versi keluhan asli Epic yang sepenuhnya tidak diedit terhadap Google, yang menuduh Google begitu khawatir tentang Epic yang bisa memicu kondisi yang ada, dengan meninggalkan Play Store, sehingga Google berupaya keras agar hal itu tidak diikuti oleh pengembang lainnya. Itu termasuk pengembang game top yang terikat kontrak langsung, termasuk Activision Blizzard untuk tetap bertahan di Play Store, dan berbagi komisi dari pendapatannya dengan pembuat ponsel jika mereka setuju untuk tidak menginstal App Store selain Play Store.

Project Hug dan Program Premier Device

Mungkin masih ingat ketika Google diduga memaksa OnePlus untuk memutuskan kesepakatan yang akan membuat Fortnite Launcher terpasang di ponsel? 

LG dan Motorola saat itu dilaporkan telah mencapai kesepakatan di mana mereka mendapat 12 persen dari pendapatan pencarian dari pelanggan mereka, serta sampai 6 persen dari uang yang mereka habiskan di Play Store, supaya tetap menjadi eksklusif untuk Google. Oppo dan Vivo juga ikut serta, dengan pemilik grup BBK mendaftarkan sebagian besar ponselnya ke program eksklusif Google tersebut. Pembuat ponsel Nokia HMD Global juga mendaftar, seperti halnya Sony, Sharp, Xiaomi, dan merek lain yang tidak disebutkan namanya.

Jika taktik itu terdengar tidak asing, mungkin hal itu karena 36 jaksa agung negara bagian Amerika Serikat sebelumnya juga menuduh bahwa Google menggunakan kesepakatan diam-diam yang sama terhadap Samsung Galaxy Store, dalam gugatan anti monopoli yang mereka ajukan ke Google pada bulan Juli. Menurut Epic, Google menyebutnya “Project Agave,”.

Rupanya, Google melihat apa yang disebut “Program Premier Device” sebagai sebuah kesuksesan besar.

Dalam presentasi yang disiapkan oleh dan dipresentasikan kepada eksekutif senior Google Play, Google mencatat bahwa dalam waktu singkat sejak awal program, lebih dari 200 juta perangkat baru telah dicakup. Presentasi yang sama menunjukkan bahwa Google percaya bahwa RSA baru berhasil menghilangkan “Risk of App Developer Contagion” yang mencatat bahwa “tidak ada risiko” di bawah “tingkat Premier Saat Ini”.

Google bahkan menyarankan ide untuk membeli Epic agar bisa menghilangkan ancaman dengan diam-diam menusuk Epic dari belakang dan mendekati pemilik Tencent, raksasa teknologi Cina yang saat ini memiliki 40 persen saham di Epic. 

Targetnya adalah untuk membeli saham Epic dari Tencent untuk mendapatkan kontrol lebih besar atas Epic, atau  bergabung dengan Tencent untuk membeli 100% Epic.

Tidak diketahui dengan pasti, apakah akhirnya Google benar-benar mendekati Tencent atau tidak, dan hal itu berada di atas kesepakatan yang dimiliki Google dengan Epic secara langsung pada Juli 2018, ketika CFO Alphabet dan eksekutif senior Google lainnya dilaporkan menawarkan hingga USD208 juta sebagai kontrak “manfaat khusus” selama tiga tahun untuk membawa Fortnite ke Google Play. Dalam hal ini Google secara efektif akan mengambil 25 persen dari pendapatan game, bukan 30 persen sesuai standar. Google diduga mencoba meyakinkan Epic untuk mengambil kesepakatan dengan menunjukkan proses 15 lebih langkah yang harus dialami para gamer untuk melakukan sideload Fortnite di Android.

Menariknya hal tersebut terjadi satu bulan sebelum Epic mengumumkan akan meninggalkan Play Store. Ini menunjukkan bahwa Google memiliki akses awal ke rencana sideloading Epic, terlepas dari instruksi CEO Tim Sweeney pada Februari 2018.

Ini juga menunjukkan bahwa Google, bukan Epic, mungkin yang awalnya menawarkan penawaran khusus. Setahun kemudian, Epic harus mempertahankan gagasan bahwa mereka adalah pihak yang meminta “pengecualian penagihan khusus,” sebuah rangkaian peristiwa yang tampaknya telah menggagalkan rencana awal Epic.

Di sisi lain, ada upaya juga dari Epic yang berencana untuk membuat jebakan hukum atas Google jauh sebelum Apple menjadi target utama.

Mengapa Google begitu ketakutan sehingga diduga menggunakan taktik semacam ini?

Rupanya, hal itu karena ada taruhan sebesar miliaran dolar. Menurut Epic, Google mengira Epic telah menciptakan “risiko penularan” yang juga akan menyebar ke pengembang game lain.

Secara khusus, dokumen yang disiapkan oleh Direktur Keuangan Google untuk Platform dan Ekosistem CFO Alphabet saat peluncuran Fortnite di Android menunjukkan bahwa, Google takut dengan apa yang disebutnya “risiko penularan” yang dihasilkan dari semakin banyak pengembang aplikasi yang meninggalkan Google Play. 

Google takut bahwa “penularan” itu akan menyebar karena terinspirasi oleh tindakan Epic, di mana pengembang besar lain akan “bisa berjalan sendiri”, meninggalkan Play Store dengan mendistribusikan aplikasi mereka sendiri secara langsung. 

Google menghitung potensi hilangnya pangsa pasar dalam distribusi aplikasi Android yang jumlahnya mencapai USD3,6 miliar dan kerugian sampai dengan USD550 juta sampai dengan tahun 2021 saja. Google juga mengakui bahwa adanya kemitraan khusus antara Fortnite dengan Samsung terbaru, juga bisa memperparah resiko tersebut.

Apa yang dilakukan Google yang secara diam-diam membangun sebuah taman dengan tembok seperti yang secara eksplisit dilakukan Apple sejak awal. Google dituduh mengunci pabrikan smartphone dengan kontrak yang rumit, yang secara langsung meminta pengembang aplikasi untuk mendistribusikan aplikasi mereka ke Play Store.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Send this to a friend