9 Teknik Pengambilan Sampel (Sampling) dalam Penelitian, Yuk Disimak!

Teknik pengambilan sampel merupakan metode yang digunakan untuk memilih sampel dari sebuah populasi, sedemikian hingga sampel tersebut dapat merepresentasikan populasi. Sampling digunakan untuk menghemat waktu, tenaga, dan biaya.

Meskipun tidak meneliti satu persatu elemen dalam populasi, pengambilan sampel dengan metode yang tepat dapat memberikan hasil yang mendekati hasil yang sebenarnya.

Salah satu aplikasi teknik pengambilan sampel yang sering kamu lihat yaitu ketika quick count pemilihan umum presiden, dimana presiden terpilih bisa diprediksi dalam beberapa jam saja meskipun penduduk Indonesia lebih dari 250 jiwa. Nah, prediksi tersebut dihasilkan bukan dengan menghitung pilihan dari semua populasi, melainkan hanya sampel-sampel yang terpilih saja.

Teknik Pengambilan Sampel

Secara umum, teknik pengambilan sampel dibagi menjadi dua kelas besar, yaitu probability sampling dan non-probability sampling.

Perbedaan dari kedua kelas tersebut terletak pada seleksi yang digunakan, dimana untuk probablity sampling sampel dipilih secara acak sedangkan untuk non-probability sampling tidak acak. Apabila dilakukan secara acak, maka setiap subjek dalam populasi memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih.

A. Probability Sampling

1. Simple Random Sampling

Teknik Pengambilan Sampel (Simple random sampling)

Simple random sampling merupakan teknik pengambilan sampel yang paling basic, dimana setiap anggota populasi memiliki probibilitas(peluang) yang sama untuk dipilih. Sesuai dengan namanya, cara pengambilan sampel benar-benar dilakukan secara acak dan tidak memperhatikan golongan atau strata yang ada dalam populasi tersebut.

Meskipun pada teorinya cukup mudah untuk dipahami, namun dalam praktiknya teknik ini sulit untuk diaplikasikan, sehingga teknik ini jarang digunakan. Keuntungan dari teknik sampling ini diantaranya yaitu error atau kesalahan yang dapat dihitung dan dapat mengurangi bias dalam pemilihan sampel.

Salah satu cara pengambilan sampel dengan teknik simple random sampling adalah dengan penomoran. Misalnya ukuran populasi sejumlah 1000 individu. Kita bisa memberi label 0 sampai 999 untuk masing-masing individu. Kemudian gunakan tabel nomor acak untuk menentukan sampel. Apabila tiga angka pertama yang terpilih dari tabel acak adalah 008, maka individu yang terpilih adalah yang berlabel 8.

2. Stratified Sampling

Stratified Sampling

Teknik sampling ini dilakukan dengan membagi populasi ke kelompok-kelompok  atau strata berdasarkan persamaan yang dimiliki dalam setiap kelompok. Atau dengan kata lain, elemen-elemen dalam satu kelompok memiliki sifat homogen sedangkan antar kelompok akan bersifat heterogen. Cara pengambilan sampel adalah dengan memilih secara acak elemen dari setiap kelompoknya.

Berikut contoh dari teknik sampling ini, misalkan terdapat penelitian apakah perempuan di suatu wilayah haid secara teratur atau tidak. Kita bisa membagi wanita dalam wilayah tersebut ke beberapa kelompok usia, misal usia 11-15 tahun, usia 16-20 tahun, usia 21-24 tahun, dan seterusnya.  Kemudian dari masing-masing kelompok usia akan diambil secara acak individu-individu yang akan dijadikan sampel. Dan jangan lupa bahwa jumlah sampel yang diambil dari setiap kelompok harus memiliki proporsi yang sama terhadap jumlah masing-masing kelompoknya.

3. Clustered Sampling

Teknik Pengambilan Sampel (Clustered Sampling)

Dalam teknik clustered sampling, seluruh  populasi harus dibagi terlebih terlebih dahulu menjadi beberapa klaster, misalnya berdasarkan lokasi individu.  Klaster ini akan berlaku sebagai unit sampling. Dari klaster-klaster tersebut, akan dipilih beberapa klaster secara acak . Semua individu dari klaster-klaster yang terpilih akan digunakan sebagai sampel.

Clustered sampling dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu single stage cluster sampling dan two stage cluster sampling. Single stage cluster sampling dengan cara memilih klaster-klaster secara acak dan menggunakan seluruh elemen dari klaster-klaster tersebut sebagai sampel penelitian.

Untuk two stage cluster sampling, pemilihan sampel masih dilanjutkan sampai dua tahap, pertama memilih klaster-klaster secara acak, baru setelah itu pemilihan elemen-elemen dari klaster-klaster yang terpilih secara acak. Elemen-elemen inilah yang akan menjadi sampel penelitian.

Clustered sampling dinilai lebih efisien daripada simple random sampling apabila melibatkan daerah yang luas. Sebab, akan lebih mudah melakukan penelitian pada banyak individu di beberapa lokasi daripada melakukan penelitian beberapa individu di banyak lokasi.

4. Systematic Sampling

Dalam systematic sampling, pemilihan sampel dilakukan dengan menggunakan interval. Pemilihan dilakukan secara sistematis atau tidak acak, kecuali elemen pertama. Dalam systematic sampling, pertama seluruh populasi harus diurutkan atau diberi nomor terlebih dahulu. Kemudian populasi tersebut dibagi menjadi beberapa grup, tergantung ukuran sampel yang dibutuhkan.

Misalnya, dalam suatu populasi terdapat N individu dan ukuran sampel yang dibutuhkan adalah n sampel. Buat grup dimana masing-masing grup berjumlah N/n elemen, misalnya k elemen.  Lalu pilih secara acak elemen dari  grup pertama.

Nah, setelah pemilihan acak di grup tersebut, pemilihan elemen di grup lainnya dilakukan mengikuti interval. Misal elemen di grup pertama bernomor n1, maka elemen di grup kedua bernomor n1+k, elemen di grup ketiga bernomor n1+k+k,  dan seterusnya.

5. Multi Stage Sampling

Multi stage sampling merupakan kombinasi dari teknik pengambilan sampel yang telah disebutkan di atas. Pertama, populasi akan dibagi ke dalam klaster-klaster. Klaster-klaster ini akan dikelompokkan dalam strata berdasarkan persamaannya. Dalam satu strata, satu atau lebih klaster akan dipilih secara acak. Proses ini terus berlanjut hingga klaster tidak bisa dibagi lagi.

B. Non-Probability Sampling

6. Convenient Sampling

Convenient sampling merupakan teknik pengambilan sampel yang paling mudah untuk diaplikasikan. Pengambilan sampel dilakukan berdasarkan ketersediaan partisipan untuk terlibat dalam penelitian. Banyak peneliti yang mengandalkan teknik ini dikarenakan pelaksanaan yang lebih mudah, biaya yang lebih murah, dan waktu yang dibutuhkan relatif cepat.

Contoh penggunaan teknik convenient sampling adalah meminta ketersediaan siswa dalam suatu kelas sebagai subjek penelitian. Meskipun memiliki banyak kenyamanan yang ditawarkan, teknik ini akan menimbulkan bias karena volunter yang bersedia bisa saja memiliki perbedaan yang signifikan dengan mereka yang tidak bersedia. Oleh karena itulah, teknik ini tidak menjamin dapat mewakili seluruh populasi.

7. Quota Sampling

Untuk menggunakan quota sampling, peneliti perlu menerapkan standard sebelumnya. Sehingga ia dapat memilih sampel yang bisa merepresentasikan populasi. Proporsi karakteristik dalam sampel harus sama dengan populasi.

Misalkan sampel terdapat 1000 populasi dimana 600 berjenis kelamin laki-laki dan 400 berjenis kelamin perempuan. Dari populasi tersebut, misalkan sampel yang dibutuhkan sebanyak 100 sampel. Maka, dari 100 tersebut harus terdiri dari 60 laki-laki dan 40 perempuan.

8. Purposive Sampling

Teknik Pengambilan Sampel (Stratified Sampling)

Teknik pengambilan sampel ini juga dikenal sebagai selective sampling.  Dalam teknik ini, peneliti dapat memberikan penilaian siapa yang sebaiknya berpartisipasi dalam penelitian. Peneliti dapat secara implisit memilih subjek yang sekiranya representatif terhadap populasi.

Teknik pengambilan sampel semacam ini biasanya digunakan oleh media ketika meminta pendapat publik. Media akan memilih siapa subjek yang sekiranya dapat mewakili publik. Kelebihan purposive sampling yaitu waktu dan biaya yang efektif, sedangkan kelemahannya yaitu ketika peneliti salah memilih subjek yang representatif.

9. Snowball Sampling

Snowball sampling merupakan teknik pengambilan sampel yang sering digunakan ketika populasi penelitian sangat jarang atau langka. Karena itulah, pengambilan sampel juga sulit dilakukan. Langkah pertama dari pengambilan sampel ini adalah dengan memilih satu sampel dari populasi.

Kemudian, individu yang menjadi sampel tersebut akan diminta untuk merekomendasikan sampel lainnya yang sesuai dengan deskripsi yang dibutuhkan. Dari satu sampel, maka akan berkembang ke sampel-sampel lainnya. Oleh karena itulah, teknik ini disebut snowball sampling.

Leave a Reply

Send this to a friend