• Our Partners:

TikTok Tertangkap Mata-Matai Pengguna iPhone Lewat Clipboard

NESABAMEDIA.COM – Banyak pengguna iPhone yang tidak menyadari bahwa teks, foto, atau apa pun yang mereka copy dapat dibaca oleh aplikasi yang terinstall, dan TikTok termasuk salah satu aplikasi yang selama ini membaca clipboard tanpa izin dari pengguna.

Apa yang dilakukan oleh TikTok tersebut tertangkap basah setelah iOS mendapatkan update berupa deretan fitur baru, yang salah satu diantaranya adalah fitur notifikasi setiap kali ada aplikasi yang mengakses isi clipboard.

Jeremy Burge, pendiri Emojipedia, mendapatkan notifikasi tersebut berulang kali pada saat ia menggunakan ponselnya.

Sebenarnya, TikTok sudah ketahuan mengintai clipboard sejak bulan Maret lalu dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh peneliti keamanan Tommy Mysk dan Talal Haj Bakry, yang kemudian diulas oleh sejumlah media, termasuk Forbes.

Seorang juru bicara ByteDance (perusahaan pemilik TikTok) menyampaikan klarifikasi kepada Forbes bahwa akses clipboard tersebut merupakan masalah yang disebabkan oleh Google Ads SDK, dan mengklaim bahwa TikTok tidak memperoleh data apa pun dari clipboard.

Meskipun demikian, ByteDance menjanjikan bahwa masalah tersebut akan diperbaiki agar tidak ada SDK pihak ketiga yang bisa mengakses isi clipboard.

Sayangnya, fakta membuktikan bahwa janji tersebut hanyalah sebuah janji.

Yang lebih parah lagi, ketika TikTok tertangkap masih memata-matai isi clipboard, alasan yang dikemukakan berbeda dari semula.

Sebelumnya, SDK pihak ketiga yang menjadi alasan, kini ByteDance beralasan bahwa sebenarnya masalah akses clipboard tersebut terjadi karena TikTok berupaya melindungi pengguna dari spam. Untuk menghindari kesalahpahaman, ByteDance berjanji akan menghapus fitur anti spam tersebut dari TikTok.

Selain TikTok, masih ada beberapa aplikasi lain yang mengakses clipboard tanpa izin, tapi TikTok mendapat perhatian khusus karena popularitas dan masa lalunya.

Dulu, TikTok pernah dituding melakukan pelanggaran terkait dengan hukum privasi anak-anak COPPA (Children’s Online Privacy Protection Act). Kasus tersebut pada akhirnya membuat ByteDace terpaksa membayar denda sebesar 5,7 juta dolar kepada FTC (Federal Trade Commission).

Selain itu, ByteDance yang merupakan perusahaan Cina juga mengundang ketakutan tersendiri khususnya di Amerika Serikat. Bukan karena rasisme, tapi karena prilaku pemerintah Cina, sepak terjang ByteDance, dan keterkaitan antara keduanya.

Pasal 28 dalam hukum keamanan siber di Cina menegaskan bahwa seluruh operator jaringan harus menyediakan “dukungan teknis dan bantuan” kepada pemerintah untuk melindungi keamanan negara.

Pasal tersebut, dibarengi dengan pemerintah Cina yang “hobi” memata-matai rakyatnya sendiri, ditambah dengan sejumlah dugaan pelanggaran privasi yang dilakukan ByteDance melalui TikTok, membuat TikTok mendapat sorotan paling tajam dalam kasus “akses clipboard tanpa izin” ini.

Leave a Reply

Send this to a friend