Pengertian Cyberbullying Beserta Penyebab, Dampak dan Contohnya

Pengertian Cyberbullying secara global

Bullying merupakan sebuah bentuk penindasan yang bisa terjadi pada siapa pun dan dimana pun, namun biasanya terjadi pada anak-anak di lingkungan sekolah dan pada orang dewasa di lingkungan tempat kerja. Anak-anak pelaku bullying di sekolah biasanya adalah anak yang kurang terdidik moralnya, kurang mendapat perhatian/kasih sayang yang cukup dari orang tuanya, atau berasal dari lingkungan yang kurang mendukung perkembangan kepribadiannya.

Pelaku bullying di lingkungan tempat kerja biasanya terjadi karena pelakunya memiliki gangguan kepribadian atau ketidakmampuan seseorang dalam mengendalikan emosi negatifnya. Bullying juga bisa terjadi di dunia maya seperti media sosial, chat room, atau forum diskusi online. Bullying di dunia maya semacam ini diistilahkan sebagai cyberbullying.

Suatu peristiwa penindasan bisa disebut sebagai bulllying bila terdapat tiga (3) subjek, yaitu bully (pelaku intimidasi), victim (korban bully), dan bystander (orang selain kedua subjek tadi). Karena umumnya perilaku bullying berkaitan erat dengan perilaku shaming yaitu mempermalukan victim di depan banyak orang. Beda kasusnya bila hanya dua orang berseteru, hal ini disebut perkelahian. Atau seorang saja menyerang tanpa melibatkan orang lain, hal ini disebut menyerang atau menantang berkelahi.

pengertian-cyberbullying-1

Terminologi dan pengertian cyberbullying bukan hal baru, karena pada hakikatnya konsep cyberbullying tidak jauh berbeda dengan konsep bullying tradisional, bedanya hanya dari sisi medianya. Cyberbullying mudah dikenali dari cara pelakunya menyusun kata-kata pada saat berinteraksi di dialog chat, susunan kalimat, atau dari gambar/video unggahan sebagai publikasi. Cyberbullying bisa dilakukan dengan terang-terangan, tersirat/konotatif, ataupun dengan menyembunyikan identitas (anonimitas).

Media sosial didesain sebagai media berinteraksi dan membangun hubungan sosial antarpengguna di dalam lingkungan antarmuka/interface media sosial tersebut. Karena itu bisa dibilang di dalam perilaku cyberbullying terkandung tendensi atau motif tidak normal, sebab tidak ada unsur membangun hubungan sosial di situ, melainkan anti-sosial. Motif tidak normal tersebut, diantaranya karena pelaku merasakan ‘kepuasan’ ketika menindas orang lain yang terlihat lebih lemah dari dirinya, atau hanya sekadar ingin merasa superior dari orang lain sebagai bentuk pelarian emosionalnya dari perasaan tidak berdayanya di dunia nyata. Anonimitas memungkinkan pelaku cyberbullying untuk melakukan bullying tanpa ‘tertangkap’.

Cyberbullying umumnya berbentuk sebagai trolling atau porno parasit. Trolling adalah bentuk gangguan secara online yang bersifat mempermalukan dan provokatif baik secara publik atau grup. Porno parasit adalah gambar atau video sugestif yang merujuk kepada perilaku seksual yang diunggah dan disebarkan di media sosial secara publik, grup, maupun privat.

Penyebab seorang bully melakukan Cyberbullying

stupid-bully

Penyebab bullying dari sisi pelaku:

1. Masalah pribadi dengan dirinya sendiri

Salah satu pemicu perilaku bullying adalah adanya masalah intern dari sisi dalam kejiwaan pelaku itu sendiri. Pada anak-anak sekolah penyebabnya bisa karena perkelahian di lingkungan rumah, pada orang dewasa di tempat kerja penyebabnya bisa karena pertengkaran dengan pasangan. Karena masalah-masalah tersebut pelaku merasa tidak berdaya, kemudian melampiaskannya dengan cara mem-bully.

2. Balas dendam salah sasaran

Beberapa pelaku bullying sebenarnya juga pernah menjadi korban bullying. Seorang bully akan melakukan penindasan terhadap orang di sekitarnya dengan tujuan melepaskan kekesalannya terhadap perilaku bullying yang pernah ia terima dari pem-bully dari lingkungan sosial yang berbeda.

3. Rasa iri pada korban

Pelaku memendam perasaan iri kepada korban karena sesuatu hal. Bisa jadi iri karena masalah materi atau kelebihan lain pada diri korban, sehingga secara sadar atau tidak, pelaku melakukan perbuatan-perbuatan intimidasi kepada korban, salah satunya dengan cara mem-bully-nya.

4. Kurangnya rasa empati

Pada beberapa kasus, pelaku bullying pada dasarnya memiliki gejala gangguan kepribadian yang disebut Narcissistic Personality Disorder (NPD), ini adalah kondisi kejiwaan dimana seseorang terus-menerus merasa haus akan perhatian dari orang di sekitarnya. Penderita NPD secara alami hanya sedikit sekali memiliki rasa empati kepada orang lain, karena itu ia sering melakukan perbuatan-perbuatan anti-sosial, diantaranya bullying.

5. Sulit mengendalikan emosi

Pelaku merasa kesulitan mengendalikan emosi amarahnya dan bahan mudah terprovokasi karena perkara kecil saja. Perasaan marah yang membuncah tersebut termanifestasi dalam kebiaasannya membentak-bentak dan otoriter. Orang di sekitarnya akan melihat orang seperti ini sebagai pemarah, terlebih lagi bagi orang yang menjadi korban bully-nya.

6. Riwayat keluarga disfungsional

Tidak semua anak yang lahir dan tumbuh di keluarga yang disfungsional/broken home tumbuh menjadi pem-bully. Namun, faktanya sebagian besar bully tumbuh di keluarga yang kurang menjunjung nilai kasih sayang, dan sering melihat sikap-sikap agresif orang tuanya terhadap orang-orang di sekitarnya.

Penyebab bullying dari sisi korban:

1. Penampilan fisik

Penyebab paling umum pada kasus bullying adalah kekurangan fisik pada korban, kasus semacam ini banyak terjadi di lingkungan anak-anak atau remaja. Bila seorang anak memiliki kekurangan fisik yang menonjol, maka pem-bully merasa punya bahan untuk mengintimidasi anak tersebut.

2. Perbedaan ras

Perbedaan ras kadang sering menjadi penyebab seorang korban menjadi target bullying. Hal ini bisa terjadi karena korban dianggap termasuk dalam kelompok minoritas. Bullying karena alasan ini juga sering terjadi.

3. Orientasi seksual

Seseorang yang diklaim terlibat dengan isu LGBT (Lesbian Gay Bisexual and Transgender) biasanya menjadi bahan olok-olokan oleh teman-temannya yang merasa lebih normal. Bagi seorang pem-bully, korban dengan isu LGBT adalah sasaran empuk.

4. Terlihat lemah

Bullying karena sebab ini juga banyak terjadi di kalangan anak-anak. Anak yang terlihat tidak suka melawan akan dianggap lemah dan penakut, sehingga sering dijadikan bahan bulan-bulanan oleh pelaku bullying.

5. Terlihat sulit bergaul

Anak yang sulit bergaul juga bisa menjadi sasaran empuk bullying karena hanya memiliki sedikit teman. Kelemahan dalam hal sosial tersebut dilihat pem-bully sebagai peluang untuk mendominasinya. Kelompok pem-bully juga cenderung berpotensi melakukan bullying terhadap kelompok yang lebih lemah.

6. Kesalahan yang tidak biasa

Korban pernah melakukan kesalahan yang tidak umum, dan memori mengenai kejadian itu dijadikan bahan celaan dan olok-olokan bagi pem-bully.

Dampak Cyberbullying bagi korban

stupid-bully-2

Sebagaimana traditional bullying, cyberbullying dapat memberikan dampak psikologis yang negatif pada korbannya. Beberapa dampak negatif tersebut diantaranya sebagai berikut.

1. Ketakutan

Korban merasa tidak aman berada di sekitar bully, ataupun orang-orang yang berhubungan dengan bully. Kekhawatiran ini dapat menimbulkan korban tidak mampu berpikir dan bertindak dengan normal. Perilakunya dikontrol rasa takutnya, akibatnya ia tidak bisa menjalani aktivitasnya dengan baik.

2. Post-traumatic Stress Disorder (PTSD)

PTSD umumnya terjadi pada korban kecelakaan lalu lintas. Namun, pada kasus bullying, korban bisa mencapai taraf stress pada level ini bila pem-bully terus melakukan penindasan dalam kurun waktu yang lama.

3. Kecemasan (anxiety)

Buah dari rasa takut yang terus-menerus tadi, pada akhirnya muncul kecemasan, korban merasa tidak optimis dalam menjalani hari-harinya. Setiap waktu korban dibayangi perasaan khawatir dan rasa tidak aman walaupun ia berada di sekitar orang yang memberinya rasa aman sekalipun.

4. Depresi

Titik nadir ketakutan, stress, dan kecemasan tadi adalah depresi. Depresi digambarkan sebagai suasana hatinya hampa, tanpa motivasi, pikiran tidak mampu berpikir jernih, terus mengalami kecemasan yang tidak terkendali. Orang depresi tidak mampu menikmati apapun. Pada beberapa kasus di Amerika Serikat, korban yang mengalami depresi karena intimidasi bully ataupun cyberbullying, akhirnya memutuskan untuk bunuh diri.

Contoh Kasus di Indonesia dan Amerika Serikat

Agar lebih memahami pengertian cyberbullying, kita memerlukan contoh kasus. Kasus cyberbullying yang viral di Indonesia biasanya disebabkan karena faktor kesalahan dari sisi korban cyberbullying sendiri, dan seringnya korban di-bully secara berlebihan. Tidak jarang kita mendengar kabar artis di-bully secara verbal di media sosial dan pemberitaan nasional karena kesalahan tertentu, dan beritanya terus bergulir sampai berbulan-bulan dan dibuatkan banyak meme-nya oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Sementara cyberbullying karena faktor selain itu, kurang diperhatikan atau kurang disorot publik. Kasus-kasus cyberbullying yang lebih urgent untuk dibahas, yang bisa diambil pelajarannya, malah luput dari fokus sorotan media.

Seperti video pemukulan dan penganiayaan yang di-share di media sosial dan messenger untuk menakut-nakuti korban bully di video tersebut, hanya sedikit saja yang diangkat ke media informasi publik. Perilaku semacam itu bisa dibilang bully berlapis, karena pelaku melakukan bullying di dunia nyata sekaligus dunia maya. Malah yang terjadi adalah teman-temannya terkesan malu untuk membela korban, dan mereka pun mendiamkannya karena khawatir diperlakukan sama oleh pelaku.

Berikut ini kasus cyberbullying yang sempat viral di Indonesia.

1. Florence Sihombing (2015)

Florence di-bully oleh netizen karena tidak mau antri di SPBU di daerah Jogja, kemudian memposting status yang mengandung kata-kata yang melecehkan nama Jogja. Beberapa waktu setelah dibombardir cercaan dan bully-an dari netizen, Florence akhirnya meminta maaf kepada segenap pihak netizen pada umumnya dan kepada Gubernur Yogyakarta. Namun, bully-an terhadap dirinya tidak lantas berhenti begitu saja.

2. Sonya Depari Sembiring (2016)

Video rekaman Sonya yang memaki-maki polwan yang menilangnya sempat viral pada 2016 yang lalu. Alhasil, Sonya mendadak terkenal, tapi dalam konotasi yang buruk. Sebagian netizen geram melihat perilaku Sonya pada video rekaman tersebut, kemudian melancarkan cercaan tiada henti yang akhirnya menjadi bombardir bully verbal terhadapnya. Sehari setelah viralnya video tersebut, ayah Sonya mendadak stroke dan meninggal karena tidak kuat melihat putrinya disudutkan oleh netizen seperti itu.

Berikut ini kasus cyberbullying yang sempat viral di Amerika Serikat.

1. Rebecca Sedwick (2013)

Rebecca mengalami bullying yang menyebabkan ia harus pindah-pindah sekolah. Namun, perlakuan tidak menyenangkan tersebut tidak lantas berhenti, di sekolah yang baru pun ia selalu mendapat perlakuan buruk dari teman-temannya.

Ia sering mendapat pesan-pesan elektronik yang menggambarkan kebencian dan dorongan bunuh diri. Sebelumnya ia bertahan satu tahun dari cyberbullying sebelum ia akhirnya depresi dan melakukan bunuh diri.

2. Daniel Briggs (2014)

Daniel mengalami bullying selama bertahun-tahun sebelum akhirnya ia bunuh diri pada 2014. Banyak upaya sudah dilakukan oleh Daniel sendiri, orang tuanya, serta gurunya untuk menghentikan perilaku teman-teman sekolahnya yang mem-bully-nya. Namun, hasilnya nihil, sesaat sebelum bunuh diri, melalui media sosial Daniel didorong oleh salah seorang pem-bully-nya agar bunuh diri, dan ia benar-benar melakukannya karena merasa putus asa.

Itulah penjelasan tentang pengertian cyberbullying beserta penyebab, dampak dan contohnya. Semoga artikel ini bermanfaat dan mudah dipahami!

Leave a Reply

Send this to a friend