5 Rumah Adat Papua : Keunikan dan Ciri Khasnya Beserta Gambarnya

Papua merupakan pulau terbesar kedua di dunia dan terbesar pertama di Indonesia. Ibu kotanya adalah Jayapura. Bagian timur dari Papua adalah Papua Nugini.

Sebelumnya, nama papua terkenal dengan nama Irian Jaya sebelum pada akhirnya di tahun 2013 diganti menjadi Papua. Kota tertinggi di papua adalah Puncak Jaya sedangkan kota terendah adalah Kota Merauke.

Masyarakat Papua terkenal dengan ciri khas dari kulit mereka yang hitam. Lagu daerah terpopuler dari Papua sendiri adalah lagu Apuse dan Yamko Rambe Yamko.

5 Rumah Adat Papua dan Ciri-Cirinya

Banyak wisatawan yang berkunjung ke Papua baik untuk studi maupun sekedar liburan. Papua mempunyai rumah adat yang unik loh, yuk disimak!

1. Honai

rumah adat Papua Honai

Honai berasal dari dua kata yaitu “Hun” artinya laki-laki dan “Ai” artinya rumah. Honai berati rumah yang ditempati oleh anak laki-laki. Rumah ini biasa dijadikan tempat tinggal oleh suku Dani dan biasa didapati di daerah lembah dan pegunungan.

Dinding rumah adat ini terbuat dari kayu sedangkan atapnya terbuat dari jerami dan ilalang. Atapnya berbentuk kerucut menyerupai bentuk jamur dan berfungsi sebagai pelindung dari air hujan dan mengurangi hawa dingin dari luar rumah. Rumah ini dihuni oleh lima sampai sepuluh orang.

Bangunan ini bisa digunakan sebagai tempat beristirahat dan tidur, tempat untuk memasak dan makan bersama serta sebagai kandang untuk memelihara hewan ternak. Selain sebagai tempat tinggal dan memelihara tenak, rumah ini juga dijadikan sebagai tempat penyimpanan perlatan perang atau berburu, tempat menyusun strategi perang, tempat melatih anak laki-laki agar menjadi kuat dan ketika sudah dewasa bisa melindungi sukunya, serta menyimpan peralatan dan simbol yang sudah diturunkan atau diberikan oleh nenek moyang.

Terdapat fakta unik tentang rumah Honai, yaitu rumah Honai tidak boleh dibuat sembarangan dan harus dibangun oleh laki-laki dalam waktu yang ditentukan pula. Alasannya supaya pembangunannya tidak terhambat oleh cuaca dan bencana alam.

Selain itu posisi pintu dan hunian tersebut harus menghadap ke arah terbit dan tenggelamnya matahari supaya jika terjadi kebakaran atau serangan musuh datang secara tiba-tiba, Honai bisa siap siaga. Fakta lain adalah wanita tidak boleh memasuki Honai sekalipun ia adalah istri dari salah satu penghuni rumah Honai tersebut.

Ciri-ciri Rumah Adat Honai:

  • Pada umumnya, rumah adat ini memiliki ukuran tinggi sekitar 2,5 meter dan berbentuk bulat kerucut menyerupai jamur.
  • Rumah ini memiliki satu pintu yang pendek dan tidak memiliki jendela.
  • Terdiri dari dua lantai, masing-masing mempunyai fungsinya. Lantai pertama digunakan sebagai ruang tamu dan lantai kedua digunakan sebagai kamar tidur.
  • Menggunakan rumput kering sebagai alas tempat tidur.
  • Bagian paling bawah Honai biasa digunakan sebagai penyimpampanan jasad yang sudah diawetkan.

2. Ebai

Ebai

Ebai juga berasal dari dua kata yaitu “Ebe” yang artinya tumbuh dan “Ai” yang artinya rumah dan jika diartikan adalah rumah bagi kehidupan. Ebai ditempati oleh ibu-ibu, gadis remaja dan anak laki-laki yang masih kecil. Setelah dewasa maka anak laki-laki tersebut akan dipindahkan ┬áke Honai.

Di rumah ini anak-anak perempuan akan diajarkan kehidupan setelah menikah seperti memasak, merawat anak, melayani suami dan lainnya. Rumah ini mirip dengan Honai tetapi bentuknya lebih pendek dan berada di samping kanan atau kirinya serta pintunya tidak sejajar dengan pintu utamanya.

3. Wamai

rumah adat Papua Wamai

Rumah ini merupakan tempat penyimpanan hewan ternak yang dipelihara oleh masyarakat papua seperti ayam, kambing, babi, anjing dan hewan ternak lainnya. Bentuknya persegi panjang dan ukurannya disesuaikan pada banyaknya hewan ternak yang diperlihara oleh masyarakat tersebut. Jika hewannya sedikit maka bentuknya agak kecil tetapi jika hewan ternaknya banyak tentu bentuknya akan lebih besar. Rumah ini mirip dengan Honai dan Ebai, bedanya hanya rumah ini diperuntukkan untuk hewan.

4. Kariwari

Kariwari

Kariwari merupakan tempat tinggal suku Tobati Enggros dan biasanya ditemukan di Tepi Danau Sentani, Jayapura. Rumah ini dihuni oleh anak laki-laki yang berumur sekitar 12 tahun atau sudah dewasa.

Di rumah ini anak laki-laki akan diajarkan tentang ilmu kehidupan, seperti pengalaman hidup, mencari nafkah, membela dan menjaga keluarga, bagaimana cara berperang, membuat senjata, memahat, membuat perahu dan sebagainya. Dengan begitu anak laki-laki tersebut setelah dewasa bisa bertanggungbjawab terhadap keluarga.

Ada yang menarik dengan rumah ini,bangunannya dibuat hanya menggunakan delapan buah kayu yang digunakan sebagai kerangkanya dan disambungkan dengan tali, fungsinya unruk menahan atap bangunan dan menjaga keseimbangan bangunan tersebut. Kayu yang digunakan berjenis kayu besi.

Ciri-ciri Rumah Adat Kariwari:

  • Atapnya berbentuk kerucut, masyarakat papua mempercayainya untuk mendekatkan diri kepada leluhur.
  • Berbentuk segi delapan menyerupai linmas dan berfungsi untuk menahan angin kencang dari berbagai arah.
  • Tinggi rumah antara 20-30 meter dan diameternya 8-12 meter. Memiliki tiga lantai dengan fungsi masing-masing. Lantai pertama digunakan untuk tenpat belajar anak laki-laki. Lantai kedua digunakan untuk pertemuan antar kepala suku dan juga sebagai tempat tidur kaum laki-laki. sedangkan lantai ketiga digunakan untuk meditasi dan berdoa terhadap leluhur.
  • Lantai rumah terbuat dari kayu, dindingnya terbuat dari bambu yang sudah dibelah sedangkan atapnya menggunakan daun sagu yang sudah ditata dengan rapi.
  • Di bawah batang kayu digunakan sebagai tempat penyimpanan kerajinan dan alat-alat perang lainnya.

5. Rumah Adat Rumsam

rumah adat Papua Rumsam

Rumah ini biasa dihuni oleh suku Biak Numfor yang tinggal di pulau-pulau biasanya di Pantai Papua Utara. Runah ini sama dengan rumah adat Kariwari yaitu hanya dihuni oleh kaum laki-laki dan tidak diizinkan dimasuki oleh kaum wanita.

Begitu juga dengan fungsinya, yaitu digunakan untuk mendidik anak laki-laki tentang mencari pengalaman pengalaman hidup, mencari nafkah dan sebagaimana yang telah dijelaskan di Kariwari. Bahan untuk membangun rumah ini juga terbuat dari kayu,bambu air dan daun sagu.

Ciri-ciri Rumah Adat Rumsam:

  • Runah ini berbentuk seperti rumah panggung dan memiliki beberapa ukiran di bagian-bagiannya.
  • Atapnya menyerupai perahu terbalik, hal ini menandakan bahwa masyarakat Biak Numfor mencari nafkah menggunakan perahu yaitu sebagai nelayan.
  • Tinggi rumahnya sekitar 6-8 meter.
  • Terdiri dari 2 ruangan. Ruang pertama digunakan sebagai tempat mendidik anak laki-laki belajar memahat, membuat perahu, belajar berperang dan lainnya. Ruangan ini bersifat terbuka, maksudnya adalah tidak memiliki dinding dan parktis.
  • Memiliki dua buah pintu dari depan dan dari belakang disertai dengan beberapa jendela.

Leave a Reply

Send this to a friend