Cari Tahu Tentang Sejarah Bahasa Indonesia dan Perkembangannya

Sejak tahun 1980, Indonesia memperingati bulan Bahasa dan Sastra Indonesia di bulan Oktober setiap tahunnya. Berbagai macam kegiatan kebahasaan diselenggarakan di bulan ini oleh Badan Pengembangan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan seperti lomba pidato, lomba menulis cerpen, dan lain sebagainya.

Tujuannya adalah untuk memperingati Sumpah Pemuda serta membina dan mengembangkan bahasa dan sastra Indonesia. Tujuan lainnya adalah memelihara semangat serta meningkatkan peran masyarakat luas dalam menangani masalah bahasa dan sastra Indonesia.

Mengapa bulan Oktober disebut sebagai bulan Bahasa dan Sastra Indonesia? Karena di bulan Oktober inilah, bahasa Indonesia lahir tepatnya saat Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober. Dengan kata lain, sejarah bahasa Indonesia tidak bisa dilepaskan dari sejarah Sumpah Pemuda.

Sejarah Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia adalah salah satu dialek dari bahasa Melayu yang merupakan bahasa kebanggaan bagi beberapa negara di Asia Tenggara seperti Indonesia, Singapura, Brunei, dan Malaysia. Ragam bahasa Melayu yang menjadi cikal bakal bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu Riau yakni bahasa Melayu yang terdapat di Provinsi Riau, Indonesia.

1. Masa Kerajaan Malayu

Sejarah Bahasa Indonesia

Sungai Batanghari

Bahasa Melayu yang menjadi cikal bakal bahasa Indonesia berasal dari Pulau Sumatera. Istilah Melayu atau Malayu sendiri pertama kali digunakan sebagai nama kerajaan tua di daerah Jambi yakni Kerajaan Malayu yang terletak di tepi Sungai Batanghari. Bahasa yang digunakan pada masa  itu adalah bahasa Melayu Kuno. Kerajaan ini kemudian ditaklukan oleh kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7.

2. Masa Kerajaan Sriwijaya

Kerajaan Sriwijaya berkuasa di daerah Sumatera Selatan bagian timur selama kurang lebih empat abad lamanya. Dari berbagai prasasti yang ditemukan menunjukkan bahwa kerajaan Sriwijaya menggunakan bahasa Melayu Kuno sebagai bahasa resmi pemerintahan.

Selain itu, bahasa Melayu Kuno juga digunakan sebagai bahasa perdagangan dan bahasa kebudayaan yakni bahasa pengantar dalam mempelajari ilmu pengetahuan. Hal ini juga ditunjukkan oleh beberapa prasasti Kedukan Bukit (683 M), Prasasti Talang Tuo (684 M), Prasasti Kota Kapur (685) M, dan Prasasti Karang Berahi (686 M).

Penaklukan Kerajaan Melayu oleh Kerajaan Sriwijaya membuat masyarakat Melayu bermigrasi ke beberapa wilayah seperti Sumatera Barat, Filipina, dan Semenanjung Malaysia. Migrasi yang dilakukan masyarakat saat itu dengan sendirinya menyebarkan bahasa Melayu Kuno ke wilayah yang dituju. Hal ini juga ditunjukkan oleh beberapa prasasti salah satunya prasasti Keping Tembaga Laguna.

Bahasa Melayu yang berkembang di Sumatera Barat berbeda dengan bahasa Melayau yang berkembang di di sekitar Semenanjung Malaysia. Jika bahasa Melayu yang berkembang di Sumatera berlogat “o”, bahasa Melayu yang berkembang di sekitar Semenanjung Malaysia berlogat “e”.

3. Masa Kerajaan Malaka

Kerajaan Malaka

Malaka

Kerajaan Malaka yang terletak di Semenanjung Malaysia mencapai puncak kejayaan pada awal abad ke-15. Saat itu, kerajaan Malaka menjadi pusat perdagangan dan pertemuan para pedagang dari berbagai wilayah seperti Indonesia, India, dan Tiongkok. Sebagaimana halnya kerajaan Sriwijaya, kerajaan Malaka juga menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa perdagangan dan kebudayaan.

Ramainya kerajaan Malaka sebagai pusat perdagangan dan pertemuan para pedagang memberikan dampak yang signifikan terhadap bahasa Melayu. Di masa kerajaan Malaka inilah bahasa Melayu tersebar luas ke seluruh penjuru Indonesia, dari kawasan barat sampai kawasan timur Indonesia. Masuk dan berkembangnya agama Islam memicu semakin berkembangnya bahasa Melayu.

4. Masa VOC

Tahun 1511, kerajaan Malaka ditaklukan oleh Portugis. Dan di tahun 1641, Portugis yang menguasai kerajaan Malaka ditaklukan oleh VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie). Dengan kata lain, VOC menguasai hampir seluruh wilayah Nusantara saat itu. Penaklukan yang dilakukan VOC juga memiliki motif ekonomi yakni menginginkan rempah-rempah yang ada di Indonesia.

Namun, karena proses perdagangan memerlukan bahasa sebagai alat komunikasi, VOC memutuskan untuk menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar perdagangan mengingat bahasa Melayu telah digunakan secara luas sebagai lingua franca di seluruh Nusantara.

Tidak hanya itu, VOC juga mendirikan sekolah dengan menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar. Dengan demikian, bahasa Melayu semakin berkembang seiring dengan kedatangan VOC.

5. Masa Kolonial Hindia Belanda

Sejarah Bahasa Indonesia pada Masa Hindia Belanda

Pemerintahan Daendels

Setelah VOC dibubarkan tahun 1799 akibat terjadinya perubahan di negeri Belanda sendiri, pemerintahan di Nusantara kemudian diambil alih oleh Belanda.

Di masa kolonial Hindia Belanda, kedudukan bahasa Melayu sebagai lingua franca semakin hari semakin kuat. Hal ini dimanfaatkan para sarjana Belanda untuk mengembangkan standardisasi bahasa. Beberapa peristiwa atau kejadian penting di masa kolonial Hindia Belanda terkait standardisasi bahasa adalah sebagai berikut:

A. Diakuinya Ejaan Van Ophuijsen oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda

Ejaan van Ophuijsen adalah ejaan bahasa Melayu yang disusun oleh Charles van Ophuijsen dibantu oleh Nawawi Soetan Ma’moer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim pada tahun 1896. Ejaan ini merupakan ejaan bahasa Melayu dengan huruf Latin. Ejaan ini kemudian diakui dan diadopsi oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda pada tahun 1901.

B. Dibentuknya Commissie voor de Volkslectuur.

Tahun 1908, pemerintah kolonial Hindia Belanda membentuk Commissie voor de Volkslectuur atau Komisi Bacaan Melayu. Komisi ini meluncurkan program Taman Poestaka di bawah pimpinan D.A Rinkes pada tahun 1910.

Program ini diwujudkan dengan membentuk perpustakaan kecil berbagai sekolah pribumi dan berbagai instansi milik pemerintah. Program ini ternyata berkembang dengan sangat pesat. Pada tahun 1912, terbentuk 700 perpustakaan.

Pada tahun 1917, komisi ini berganti nama menjadi Balai Pustaka yang menerbitkan berbagai karya sastra seperti Siti Nurbaya dan Salah Asuhan. Selain itu, badan penerbitan ini juga menerbitkan berbagai macam buku berbagai tema. Penerbitan buku-buku sastra dan non-sastra oleh Balai Pustaka dengan sendirinya membantu penyebaran bahasa Melayu di kalangan masyarakat luas.

Munculnya Kaum Terpelajar di Indonesia

Sejarah Bahasa Indonesia dari Kaum Terpelajar

Sekolah-sekolah yang didirikan oleh VOC ataupun pemerintah kolonial Hindia Belanda bagi kaum pribumi memunculkan kaum terpelajar. Kaum inilah yang menjadi pelopor utama kebangkitan nasional di Indonesia. Hal ini juga didorong oleh berbagai macam surat kabar yang terbit saat itu.

Para pemuda yang tergabung dalam berbagai organisasi pemuda berupaya mempersatukan rakyat Indonesia. Persatuan rakyat dan bangsa Indonesia diyakini dapat mengusir kekuasaan penjajah dari Indonesia dan hanya dengan menggunakan bahasa Indonesia lah mereka dapat berkomunikasi dengan rakyat.

Upaya ini diwujudkan dengan diselenggarakannya Kongres Pemuda I Tahun 1926. Dalam kongres ini, keinginan para pemuda untuk mempersatukan antara semua unsur dan organisasi pemuda yang ada semakin kuat. Dalam kongres ini juga disepakati pentingnya bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar.

Pada tanggal 27-28 Oktober 1928 para pemuda kembali mengadakan Kongres Pemuda II. Dalam kongres inilah, diikrarkan sebuah sumpah oleh para pemuda yang kita kenal sebagai Sumpah Pemuda. Rumusan naskah Sumpah Pemuda disusun oleh Muhammad Yamin. Melalui Sumpah Pemuda mereka berikrar bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia; berbangsa yang satu, bangsa Indonesia, dan menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Dengan demikian, bahasa Indonesia dikukuhkan sebagai bahasa nasional sejak tahun 1928. Kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi negara kemudian disahkan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 tanggal 18 Agustus 1945 khusunya dalam Bab XV Pasal 36 dan diatur lebih lanjut dalam peraturan perundang-undangan yang ada di bawahnya.

Sekian pembahasan kali ini mengenai sejarah bahasa Indonesia. Semoga bermanfaat. Terima kasih.

Leave a Reply

Send this to a friend