Jeffrey Snover, Otak Di Balik Windows PowerShell Keluar dari Microsoft

Jeffrey Snover, Otak Di Balik Windows PowerShell Keluar dari Microsoft

NESABAMEDIA.COMMasa jabatan Jeffrey Snover yang panjang dan terkadang kontroversial di Microsoft, bakal berakhir pada pekan ini. Dirinya memutuskan untuk keluar dari perusahaan dan mencari pengalaman baru, setelah lebih dari dua dekade bekerja di raksasa Windows itu. 

“Setelah 22 tahun lebih menjalani tahun-tahun luar biasa di Microsoft, ini saatnya bagi saya untuk mencoba sesuatu yang baru. Saya merasa terberkati untuk bisa mendapatkan kesempatan bekerja bareng orang-orang hebat dan mengerjakan hal-hal yang berguna. Hari terakhir saya adalah tanggal 1 Juli 2022,” ungkap Snover dalam akun Twitternya. 

Snover sendiri memiliki perjalanan cukup panjang dengan berpindah-pindah divisi di Microsoft, seperti dia pernah bekerja di Tivoli dan Apollo Computer di antara tempat-tempat lain sebelum menemukan dirinya menjadi arsitek utama untuk semua teknologi manajemen Microsoft. 

Catatan terbaiknya adalah, Snover meramalkan soal pergeseran yang akan datang ke pusat data server yang besar. Alat berbasis GUI Windows pada era itu kurang ideal dalam mengelola semuanya, terutama ketika harus mengotomatisasi tugas agar proses pemasangan bisa terus berjalan. 

Untuk mengatasi hal ini, Snover menulis sebuah manifesto Monad, yang ia gambarkan sebagai ‘pendekatan baru yang fundamental terhadap otomatisasi’. Dokumen tersebut juga menjelaskan dasar untuk Windows PowerShell. 

“Saya memutuskan untuk terlibat dalam semua teknologi otomatisasi ini untuk mengambil keuntungan dari transisi ke pusat data yang sangat besar,” ungkap Snover. 

Setidaknya, Snover menghabiskan waktu selama lima tahun, melakukan ‘babat alas’. Dan selama kurun waktu tersebut, Windows Vista hadir dengan kurangnya pengakuan publik global dan .NET mulai dimasukkan ke dalam hampir setiap aspek produk software Microsoft. 

Upaya tersebut sayangnya tidak berjalan dengan baik, dan sementara mulai banyak tim Windows yang mulai menghindari penggunaan .NET, Snover masih tetap percaya dan dirinya yakin bahwa .NET adalah teknologi yang tepat untuk beragam masalah. 

Tidak semua orang di Microsoft setuju dengan pendapat Snover, dan itu menjadi tahun-tahun yang paling menyedihkan dalam hidupnya, mengingat semua usaha yang dia lakukan untuk memasukkan visinya mengenai otomatisasi ke dalam sistem operasi. 

Snover menemukan pelipur lara di tim Exchange, yang menghadapi masalah yang sama yang dia coba untuk pecahkan. 

“Mereka melihat pencerahan dari apa yang saya lakukan, dan mereka pun menjadi mitra saya,” terang Snover. 

Akhirnya Snover dan timnya bahkan berhasil mengatasi aturan tidak tertulis ‘No .NET’, di Windows dan Windows PowerShell pun akhirnya dirilis. Snover menjadi pahlawan, dan mulai menjalani hari-hari yang bahagia. Dia mendapatkan kembali posisinya, setelah lima tahun lebih terasing dan jika bukan karena gaji besar yang dia dapatkan, mungkin dia masih membenturkan kepalanya ke tembok. 

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Send this to a friend